Jumat, 07 Juni 2013

STRES PADA ANAK

Pada umumnya, stres terjadi sebagai akibat dari keadaan emosi yang kuat terhadap sikap-sikap tertentu. Apabila stres ini terjadi pada anak-anak maka akan berdampak terhadap dirinya dalam jangka pendek sekaligus jangka panjang.
Penyimpangan cara berfikir mengakibatkan manusia mengambil paham-paham yang ngawur. Setelah itu, tentulah keputusan-keputusan yang diambil pun semuanya salah. Nah, stres pada anak menimbulkan luka yang dalam pada jiwanya. Luka itu akan terus ada dan tidak kunjung sembuh; kemudian mengakibatkan belenggu-belenggu kejiwaan yang bersemayam di alam bawah sadarnya. Pada suatu saat di masa mendatang, ibarat bom waktu, ia akan tampak dalam wujud perilaku yang menyimpang.
Salah satu contohnya adalah kebiasaan orang tua bersikap pilih kasih di antara anak-anaknya. Ini bisa menimbulkan belenggu kejiwaan terpendam pada diri anak yang merasa dianaktirikan dan mengakibatkan orientasi-orientasi/melihat pemikiran dan kejiwaan yang tidak benar. Inilah yang terjadi dalam kisah Nabi Yusuf a.s. dan saudara-saudaranya,
Ya’qub a.s. sangat mencintai Yusuf a.s., putranya, sementara saudara-saudara Yusuf a.s. salah memahami kecintaan bapak mereka itu kepada Yusuf a.s. Menurut mereka, Ya’qub a.s. lebih mencintai Yusuf a.s. hanya karena usianya lebih muda dan berfisik lebih lemah daripada mereka. Inilah yang menumbuhkan benih-benih rasa cemburu dan benci dalam diri mereka terhadap Yusuf a.s. Akhirnya, mereka melakukan suatu kesepakatan yang salah untuk mengenyahkan Yusuf a.s. sebagaimana diceritakan dalam firman Allah s.w.t., “Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik“. (Q.S. Yuusuf: 9)
Kemudian kobaran api cemburu dalam hati mereka pun mereda dan tampaklah rasa cinta antarsaudara. Hal ini disebutkan dalam firman-Nya, “Seseorang di antara mereka berkata, ‘Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat‘“. (Q.S. Yuusuf: 10)
Maka mereka hanya membuang Yusuf a.s. ke dalam sumur dan tidak jadi membunuhnya.
Hari pun berlalu. Orang-orang yang menemukan Yusuf menjualnya sebagai budak kepada seorang pejabat tinggi kerajaan Mesir yang menyukainya. Hari-hari terus berjalan hingga Allah menghendaki Yusuf a.s. menempati posisi strategis dalam pemerintahan kerajaan Mesir; menjadi bendaharawan kerajaan Mesir.
Pada suatu ketika, orang-orang Yahudi, termasuk juga saudara-saudara Yusuf, menuju Mesir untuk membeli gandum. Mereka pun menemui Yusuf yang menjual gandum pada mereka. Yusuf mengenali mereka, namun mereka tidak mengenalinya karena mereka menyangka Yusuf sudah lama mati.
Yusuf a.s. berharap agar adik yang dia cintai, Bunyamin, tinggal bersamanya di Mesir. Dia lalu merekayasa sehingga adiknya tertuduh sebagai pencuri; sekadar alasan agar Bunyamin tetap tinggal di Mesir. Di sini, rasa cemburu saudara-saudara Yusuf yang sudah lama terpendam, kembali muncul. Mereka mengatakan bahwa pencurian ini tidak mengherankan karena saudaranya yang dulu (maksudnya Yusuf) juga suka mencuri. Allah menceritakan hal ini lewat firman-Nya, “Mereka berkata, ‘jika ia mencuri maka sesungguhnya, telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu‘. Maka Yusuf menyembunyikan kejengkelan itu pada dirinya dan tidak menampakkannya kepada mereka..“ (Q.S. Yuusuf: 77)
Demikianlah rasa cemburu dan dengki dalam hati saudara-saudara Yusuf itu tetap bersemayam meski sudah berlalu sekian tahun lamanya. Hal itu terjadi hanya karena mereka salah paham dengan menyangka bahwa bapak mereka berlaku pilih kasih.
Akhirnya, Allah s.w.t. menyembuhkan rasa cemburu dan dengki itu dengan kejadian yang menghantam kuat jiwa mereka. Kejadian itu menyadarkan bahwa mereka salah telah berburuk sangka terhadap bapak mereka, Ya’qub a.s. Mereka pun menyadari bahwa ternyata bukan bapak mereka yang lebih mengutamakan Yusuf a.s., melainkan Allah yang memang mengutamakannya dibanding mereka semua. Hal ini dikisahkan oleh Allah dalam firman-Nya, “Mereka berkata, ‘Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)‘. Dia (Yusuf) berkata, ‘Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang‘“. (Q.S. Yuusuf: 91-92)
Dengan demikian, kisah nyata dalam Al-Qur’an tentang Yusuf a.s. dan saudara-saudaranya ini mengungkap belenggu kejiwaan yang bersemayam dalam jiwa seseorang semenjak kecilnya akibat stres berat yang dialami semasa kanak-kanak.[]

BAGAIMANA CARA MENGOBATI STRES BERAT ?

Mengobati penyakit jiwa hanya dapat dilakukan dengan meninggalkan faktor penyebabnya, yakni nilai-nilai yang berlaku di era kemajuan industri. Kesembuhan dari penyakit jiwa hanya bisa diharapkan dengan menghidupkan nilai-nilai agama pada jiwa-jiwa yang sakit itu. Mereka hanya bisa sembuh dengan cara kembali kepada Allah, sebagaimana dipaparkan dalam firman-Nya, “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian..“ (Q.S. Al-Israa‘: 82)
Bahkan para ilmuwan nonmuslim pun berkeyakinan sama dengan kita bahwa obat penyakit jiwa adalah kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mengimani nilai-nilai agama yang luhur.
Seorang psikolog Amerika yang terkenal, William James (1842-1910), mengatakan, “Obat stres yang paling utama adalah iman pada Tuhan“. Dia juga mengumpamakan jiwa laksana lautan samudra, dengan berkata, “Ombak-ombak tinggi yang melaju di permukaan laut tidak akan mengusik ketenangan laut dalam. Begitu pula manusia yang keimanannya pada Tuhan sangat dalam; jiwanya tidak akan keruh dan tidak akan terusik oleh aneka permasalahan hidup yang ada di permukaan dan bersifat sementara itu“.
Carl Jung (1875-1961), seorang psikiatris terkenal, mengatakan, “Puluhan ribu pasien penyakit jiwa telah berkonsultasi kepada saya. Setiap pasien yang usianya melewati paruh baya, pastilah masalahnya berakar pada jauhnya dari agama. Dan tidak seorang pun sembuh, kecuali setelah kembali beriman kepada Tuhan“.
Para psikolog kelas dunia itu seakan-akan menafsirkan ayat Al-Qur’an, “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingat, hanyalah dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram“. (Q.S. Ar-Ra’d: 28)
Sekaligus menjelaskan hadits yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani bahwa Nabi Muhammad s.a.w. bersabda, “Iman di hati kalian bisa lusuh dan usang layaknya pakaian. Maka mohonlah kepada Allah Ta’ala agar Dia memperbarui iman di hati kalian“.

GENERASI YANG HILANG

Stres seolah sudah menjadi tabiat bagi kebanyakan orang pada masa sekarang ini. Terkadang ia hanya berupa stres yang wajar, seperti stresnya seorang pengendara mobil di tengah konvoi mobil berkecepatan tinggi yang dikendarai oleh para remaja ugal-ugalan. Namun, adakalanya stres menjadi sebuah penyakit jika ia terjadi begitu saja tanpa faktor luar yang masuk akal; inilah yang disebut stres berat. Apakah penyebab stres berat ? Penyebabnya tidak lain adalah terjebaknya manusia di antara hasrat-hasrat jiwa dan kekhawatiran serta keraguan akal untuk memenuhi hasrat-hasrat jiwa itu. Karena itulah, persentase manusia yang menderita stres berat lebih banyak di zaman kemajuan industri dan teknologi ini.
Masalah ini semakin mengkhawatirkan apabila yang menderita stres berat adalah para remaja, baik laki-laki maupun perempuan; kondisi kejiwaan mereka terguncang, resah, gelisah, dan tidak stabil. Akhirnya, mereka cenderung berperilaku menyimpang yang sangat merugikan diri mereka sendiri dan masyarakat; seperti mencuri, merampas, menipu, menyeleweng, dan membunuh; semua itu mereka lakukan tanpa peduli.

BEBERAPA PENYEBAB GANGGUAN JIWA DI ZAMAN SEKARANG

Ketika industri mulai bangkit di Eropa dan negara-negara lainnya di dunia, pekerjaan yang semula dikerjakan oleh tangan manusia pun dikerjakan oleh mesin. Alat-alat mesin itu menggantikan peran manusia di berbagai sektor industri. Perkembangan di bidang industri ini menimbulkan aneka dampak sosial dan mengakibatkan pertentangan antara cara tradisional dan cara modern. Selain itu, terjadi pula berbagai konflik lain akibat persaingan industri dan perbedaan kepentingan.
Salah satu dampaknya, timbullah aneka penyimpangan cara berfikir yang membuat banyak orang terperosok pada hal-hal berbahaya seperti kecanduan miras dan narkoba. Penyimpangan fikiran itu pun mengakibatkan bermacam-macam gangguan jiwa yang belum pernah diidap oleh masyarakat zaman dahulu.
Renih Dolo, peraih hadiah Nobel, dalam bukunya – yang terjemahan judulnya – Kemanusiaan Manusia, mengatakan, “Kita ini hidup di zaman stres. Tidak diragukan lagi, kemajuan iptek memang meningkatkan kemakmuran manusia, tetapi ia tidak menambah kebahagiaan dan ketenangan. Bahkan sebaliknya, menambah kegelisahan dan keputusasaan serta gangguan-gangguan jiwa yang menghilangkan makna keindahan hidup“.
Kebangkitan industri dan kemajuan teknologi belum menjadi kenikmatan bagi umat manusia, bahkan menjadi bencana yang menimbulkan banyak gangguan jiwa dan kelainan mental, serta meningkatkan jumlah pelaku bunuh diri. Negara-negara yang berada di bagian utara Eropa tergolong negara-negara yang paling kaya dan maju; para penduduknya hidup dengan segala fasilitas kesejahteraan dan kebebasan individual. Kendati demikian, mereka malah tergolong orang-orang yang paling banyak menderita dari sisi kejiwaan. Dari setiap satu juta orang, sepuluh ribu di antaranya selalu bolak-balik ke rumah sakit jiwa; tiga ribu lainnya selalu bolak-balik pergi ke pusat rehabilitasi fikiran; sementara lima ratus orang lainnya melakukan bunuh diri setiap tahun. Di samping itu, 75% pemuda di sana menjadi pengguna dan pecandu alkohol dan narkoba.
Apa yang terjadi di sebagian besar negara Eropa terjadi pula di Amerika Utara. Bahkan juga di negara-negara dunia ketiga; orang-orang kampung berbaur dengan penduduk kota tanpa ada di antara mereka hubungan yang baik, sehingga menimbulkan berbagai macam konflik kejiwaan. Semua itu pada gilirannya mengakibatkan aneka gangguan jiwa, bahkan berdampak pada hancurnya rumah tangga dan bermacam-macam konflik sosial yang tidak pernah ada sebelumnya.
Stres yang melanda secara merata di seluruh dunia ini memunculkan berbagai usaha-usaha yang ngawur sebagai pelarian, antara lain:
1. Melakukan aneka tindak kriminal.
2. Mencandu alkohol dan narkoba.
3. Mencuri, merampas, dan merampok.
Hal ini juga melemahkan ikatan kekeluargaan sampai pada taraf yang parah.
Para cendekiawan/cerdik/pandai pun tidak menemukan solusi dari kekacauan hidup beserta tantangan dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi sehari-hari, selain kembali kepada Allah. Dengan begitu akan diraih ketenangan, ketenteraman, kesembuhan, dan kesehatan jiwa.

GANGGUAN JIWA DI ZAMAN MODERN

Di dunia ini terdapat lebih dari 250 juta orang yang menderita gangguan jiwa dan aneka kelainan mental. Jumlah itu semakin bertambah seiring dengan bertambahnya kesulitan-kesulitan hidup yang dihadapi oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Pengidap sakit mental sama saja dengan pengidap sakit fisik. Hanya saja, pengidap sakit mental yang sakit adalah jiwanya sedangkan pengidap sakit fisik yang sakit adalah raganya.
Penyakit-penyakit kelainan mental sudah dikenal oleh bangsa Mesir kuno; mereka menulis tentangnya pada kertas-kertas papirus kira-kira pada tahun 1500 SM. Orang-orang Mesir kuno itu menulis apa yang mereka ketahui tentang kelainan-kelainan mental lengkap beserta terapi-terapinya di zaman mereka.
Salah satu tabib Mesir kuno yang terkenal adalah Imhotep (hidup sekitar 2600 SM). Dia mengobati pasien-pasiennya yang sakit jiwa di kuil-kuil di kota Memphis dengan memberikan sugesti dan jampi-jampi. Ketika era Yunani tiba, pengobatan penyakit jiwa mengalami kemunduran. Orang-orang Yunani menganggap kelainan mental terjadi akibat kerasukan roh jahat ke dalam tubuh si sakit, dan satu-satunya terapi adalah dengan membelenggunya dengan rantai dan mencambuknya sampai roh-roh jahat itu keluar. Kebodohan mereka ini terus berlangsung sampai beberapa abad lamanya. Anehnya, beberapa tukang tipu zaman sekarang yang mengaku-ngaku bisa menyembuhkan penyakit jiwa masih menggunakan cara yang sama dengan yang dilakukan oleh orang Yunani kuno itu. Bahkan ada yang menggunakan pukulan yang berakibat fatal atas dasar keyakinan bahwa pukulan itu dapat mengeluarkan roh-roh jahat dari tubuh si pasien!

KONFLIK BATIN

Pada dasarnya, jiwa manusia bersifat tidak stabil. Fitrahnya mengandung naluri biologis untuk memuaskan hawa nafsu akan kelezatan-kelezatan duniawi dan kenikmatan-kenikmatan lainnya; demi melestarikan kelangsungan hidupnya serta memperturutkan naluri-naluri fisik dan psikisnya. Inilah “gravitasi” bumi yang menarik manusia ke dasarnya. Namun, fitrahnya juga mengandung hasrat imani dan kerinduan untuk dekat dengan Allah s.w.t., beribadah, dan bertasbih kepada-Nya. Hal ini dapat “menerbangkan” manusia ke langit setinggi-tingginya.
Alhasil, akibat kecenderungan fitrah yang saling bertentangan itu, terjadilah konflik batin manusia, sebagaimana diungkapkan oleh Allah dalam firman-Nya, “Adapun orang yang melampaui batas. Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia. Maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut terhadap kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)”. (Q.S. An-Naazi‘aat: 37-41)
Manusia nyaris selalu dalam konflik batin sepanjang hidupnya di dunia. Sebab, perlawanan terus-menerus berlangsung dari dalam dirinya terhadap dorongan untuk memperturutkan naluri-nalurinya yang jauh dari aturan agama Islam.
Sementara itu, qariin-nya yang berasal dari malaikat senantiasa membujuknya untuk mengikuti petunjuk Allah dan menaati perintah agama, sedangkan qariin-nya yang berasal dari setan selalu membujuknya ke jalan berlawanan arah yang bertentangan dengan ajaran-ajaran agama; memperturutkan naluri dan tamak terhadap dunia.
Jadi, dalam kehidupannya sehari-hari, manusia selalu menderita akibat konflik batin. Hal ini diisyaratkan oleh Al-Qur’an dalam firman Allah s.w.t., “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah”. (Q.S. Al-Balad: 4)
Maksudnya, manusia senantiasa bersusah payah menghadapi kesulitan-kesulitan hidup di dunia sekaligus konflik batinnya.
Salah satu rahmat Allah bagi manusia adalah Dia menyediakan solusi yang bisa menghentikan konflik batin itu, jika manusia mau. Dia menganugerahi manusia kekuatan akal untuk membedakan antara keburukan dan kebaikan; memilih perbuatan yang benar dan menjauhi perbuatan yang salah. Dengan akal itu pula manusia dapat memilih jalan yang dapat menghindarkan dirinya dari konflik batin yang dialami oleh kebanyakan orang. Hal ini kita dapati dalam firman Allah s.w.t., “Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir”. (Q.S. Al-Insaan: 3)
Dan juga firman-Nya, “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (Q.S. Asy-Syams: 7-10)
Maksud ayat, “Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”, adalah orang yang mengotori jiwanya dengan maksiat. Makna yang sama dari ayat ini juga bisa kita dapati dalam banyak ayat lain.
Salah satu tabiat jiwa manusia adalah siap untuk melakukan kebaikan dan siap pula untuk melakukan keburukan. Jadi, adalah hal yang lumrah jika di dalam jiwa manusia selalu terjadi konflik antara kebaikan dan keburukan; kebenaran dan kesalahan.
Empat belas abad setelah diturunkannya Al-Qur’an, Sigmund Freud, pakar psikologi kenamaan yang mendirikan pusat studi terapi psikoanalisis, menyajikan sebuah teori yang membagi jiwa manusia dalam tiga keadaan. Teori Freud ini sangat mendekati keterangan Al-Qur’an mengenai tiga keadaan jiwa manusia, yaitu muthma‘innah (jiwa yang tenang dan tenteram), lawwaamah (jiwa yang banyak mengecam diri sendiri), dan ammaarah bi as-suu’ (jiwa yang senantiasa menyuruh berbuat keburukan).
Sigmund Freud membagi jiwa menjadi tiga:
1. Das Es (The Id).
Ini adalah jiwa yang mengandung naluri-naluri biologis; bertujuan seputar bagaimana memuaskan hawa nafsu akan kelezatan fisik dan psikis tanpa mengindahkan ajaran-ajaran agama, bahkan norma-norma sekalipun. Ini merupakan representasi dari jiwa ammaarah bi as-suu’.
2. Das Ich (The Ego).
Ini adalah jiwa yang menjadi tali kekang untuk mengendalikan hasrat-hasrat biologis dan naluri-naluri yang muncul dari Das Es; dan membendungnya berdasarkan norma-norma yang berlaku di masyarakat dan prinsip-prinsip agama. Ini merupakan representasi dari jiwa muthma‘innah.
3. Das Über-Ich (The Super-Ego).
Ini adalah jiwa yang menampung ajaran-ajaran yang menjadi pedoman hidup manusia, sehingga menjadi kekuatan psikologis internal yang dapat mengevaluasi jiwa dan mengawasinya. Inilah yang disebut dengan hati nurani; merupakan representasi dari semua tabiat yang baik dalam jiwa manusia. Dengan demikian, jelaslah bahwa Das Über-Ich menyerupai jiwa lawwaamah.

Sigmund Freud mengatakan,
Das Ich berfungsi menyelaraskan antara Das Es dan lingkungan, masyarakat, serta Das Über-Ich; dengan cara memperbolehkan dirinya memenuhi hasrat-hasrat naluriah secara psikis dan fisik dalam batas norma-norma yang berlaku di masyarakat. Pada saat yang sama, ia juga membatasi sikap ekstrem Das Über-Ich sehingga tidak berlebihan dalam mengkritik dan mengancam Das Es dalam batasan yang logis. Apabila Das Ich telah berhasil menjalankan tugasnya ini maka ia akan dapat mewujudkan kestabilan dan keseimbangan jiwa manusia. Inilah yang membuahkan kesembuhan jiwa.
Ada sebuah perbedaan besar antara tiga konsep jiwa yang tiga dalam Al-Qur’an dan tiga konsep jiwa dalam teori Sigmund Freud.
Masing-masing konsep ammaarah bi as-suu‘, lawwaamah, dan muthma’innah adalah keadaan jiwa yang berbeda-beda ketika terjadi konflik antara sisi material dan sisi spiritual dalam kepribadian manusia. Jadi, ketiganya bukanlah macam-macam jiwa, melainkan keadaan-keadaan jiwa yang pernah menetap pada satu keadaan selamanya. Adakalanya jiwa menjadi ammaarah bi as-suu‘, dan terkadang ia berubah menjadi lawwaamah. Demikian pula halnya dengan keadaan jiwa muthma’innah. Ketiganya tidak terbentuk seiring dengan proses pertumbuhan dan perkembangan manusia.
Sedangkan konsep Das Es, Das Ich, dan Das Über-Ich, menurut teori Sigmund Freud, adalah macam-macam jiwa manusia yang masing-masing terbentuk seiring dengan proses pertumbuhan dan perkembangan manusia. Jadi, Das Es adalah jiwa anak bayi yang langsung ada setelah dilahirkan; ketika si bayi secara total berada di bawah pengaruh hasrat-hasrat naluriahnya.
Ketika manusia beranjak dewasa dan mulai terpengaruh oleh lingkungannya, dimulailah pembentukan bagian jiwa lainnya, yaitu Das Ich; yang bertugas mengendalikan naluri-naluri yang muncul dari Das Es, dengan mengindahkan norma-norma masyarakat, prinsip-prinsip agama, dan undang-undang yang berlaku. Setelah itu, dari proses transfer ilmu dan wawasan yang dialami manusia, terbentuklah Das Über-Ich, yakni hati nurani, yang mengevaluasi diri manusia dan mencelanya apabila melakukan kesalahan.
Sebagaimana terjadi konflik antara tiga jenis jiwa manusia dalam teori Freud, terjadi pula konflik antara tiga keadaan jiwa yang disebutkan dalam Al-Qur’an; yaitu ammaarah bi as-suu‘, lawwaamah, dan muthma’innah.

Minggu, 02 Juni 2013

SEJARAH SINGKAT TERBENTUKNYA Het Herziene Indonesisch Reglement (H.I.R.)

Perancang H.I.R. adalah Ketua Mahkamah Agung dan Mahkamah Agung Tentara pada tahun 1846 di Batavia. Beliau adalah Jhr. Mr. H.L. Wichers, seorang sarjana hukum/ahli hukum bangsawan kenamaan pada waktu itu.
Pada tanggal 5 Desember 1846, beliau diberi tugas oleh Gubernur Jenderal Jan Jacob Rochussen untuk merencanakan sebuah Reglement tentang administrasi, polisi, acara perdata dan acara pidana bagi golongan Indonesia. Bagi mereka pada waktu itu berlaku Staatblad 1819 No. 20 yang memuat 7 pasal perihal hukum acara perdata.
Hanya dalam waktu 8 bulan, Jhr.Mr.H.L. Wichers selesai dengan rancangannya (tanggal 6 Agustus 1847) serta peraturan penjelasannya. Kemudian pendapat para Hakim Agung didengar. Di antara mereka itu ada yang setuju dengan rancangan Wichers tersebut, ada pula yang menganggap bahwa rancangan itu terlalu sederhana, mereka ingin agar ditambah dengan lembaga penggabungan, penjaminan, intervensi, dan rekes sipil seperti apa yang terdapat dalam R.V.
Jhr.Mr.H.L., Wichers tidak setuju atas penambahan tersebut dengan memberikan alasan antara lain:
a) Kalau ditambah-tambah menjadi tidak terang, dan bukan sederhana lagi;
b) R.V. saja yang diberlakukan kalau maksudnya ingin lengkap.
Akan tetapi sebagai seorang hakim yang berpengalaman luas, yang mau mendengar pendapat orang lain, akhirnya beliau mendekati kehendak para pengusul tadi, dan karenanya ditambahkan suatu ketentuan penutup yang bersifat umum, yang setelah diubah dan ditambah kini menjadi pasal yang terpenting dari H.I.R., ialah pasal 393 H.I.R., termuat dalam BAB ke-lima belas yang mengatur tentang berbagai-bagai aturan. Pasal tersebut di atas merupakan pasal yang penting, oleh karena di dalamnya dinyatakan dengan tegas bahwa H.I.R. yang berlaku, akan tetapi apabila benar-benar dirasakan perlu dalam perkara perdata dapat dipergunakan peraturan lain yang lebih sesuai yaitu yang mirip dengan peraturan yang terdapat dalam R.V.
Rancangan Wichers tersebut diatas diterima oleh Gubernur Jenderal dan diumumkan pada tanggal 5 April 1848 dengan Stbl. 1848 No. 16 dengan sebutan “Reglement op de uitoefening van de politie, de burgerlijke rechtspleging en de strafvordering onder de Indonesiers en de vreemde Oosterlingen op Java en Madoera” atau lazim disebut “Het Inlands Reglement”, disingkat I.R., dan mulai berlaku pada tanggal 1 Mei 1848.
Pada tanggal 29 September 1849 I.R. ini disahkan dan dikuatkan dengan Firman Raja No. 93 dan diumumkan dalam Stbl. 1849 No. 63, dan oleh karena pengesahan ini I.R. sifatnya menjadi Koninklijk besluit.
Perubahan dan tambahan terjadi beberapa kali. Suatu perubahan yang mendalam terjadi dalam tahun 1941, di mana didirikan Lembaga Kejaksaan sebagai Penuntut Umum, anggota-anggotanya bukan lagi ditempatkan di bawah pamongpraja, melainkan langsung ada di bawah Jaksa Tinggi dan Jaksa Agung. Penuntut umum ini disebut parket dan merupakan kesatuan organisasi yang tidak terpecah-pecah (ondeelbaar).
Oleh karena adanya perubahan yang mendalam ini, yang dalam bahasa Belanda disebut “herzien”, maka I.R. selanjutnya disebut Het Herziene Indonesisch Reglement atau disingkat H.I.R. Dengan terjemahan yang telah dilakukan setelah Negara kita merdeka, maka H.I.R. disebut pula R.I.B., ialah disingkat dari Reglement Indonesia diperbaharui atau Reglement Indonesia baru.